Erosi di DAS Serayu Mengkhawatirkan, Imam Prasodjo dan Andy Noya Paparkan Konsep Penyelamatan

0
10
Sosialog yang juga dosen Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia memberikan paparan berkaitan dengan penanganan DAS Serayu.(foto/ahr).

MMCindonesia.id,Banjarnegara – Akademisi Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo, bersama jurnalis senior Andy F Noya dan Sosialog yang juga dosen Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia memberikan paparan konsep Penyelamatan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu di Pendapa Dipayudha Banjarnegara Jumat (5/8/2022).

Kedua tokoh Sosial ini melakukan sosialisasi di pendapa Dipayudha Adigraha, yang diikuti ratusan pecinta lingkungan, pemuda dan tokoh masyarakat Banjarnegara Pada pertemuan ini, Imam Prasodjo memaparkan akan adanya potensi bencana dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu jika tidak segera dicegah.

“Sungai Serayu itu mengalami erosi, kiriman lumpur yang sangat besar dan bahkan yang tertangkap di waduk  Mrica, setiap tahunnya 4 juta meter kubik, diperkirakan jika masyarakat tidak melakukan sesuatu waduk Mrica dalam waktu dekat bisa tidak berfungsi,” kata Imam dihadapan Bupati Banjarnegara, Camat dan Kepala Desa disekitar DAS Serayu  dan para pegiat lingkungan di Banjarnegara

Potensi yang lebih mengerikan, kata Imam, adalah jika waduk tersebut jebol akibat tidak kuat menahan tekanan sedimentasi lumpur. Jika itu terjadi maka daerah di bawahnya akan terdampak berbagai bencana, mulai dari luapan banjir, gagal panen ikan, krisis air bersih, rusaknya irigasi serta dapat meluap ke jalan.

“Saya tidak menakut-nakuti. Tapi mari kita bersiap melakukan upaya-upaya pencegahan. Lebih baik kerjakan yang terbaik untuk mencegah hal yang terburuk,” ingatnya.

Salah satu upaya pencegahan yang ia gagas tentu saja penghijauan di sekitar bantaran sungai. Tidak sembarang penghijauan, tapi penghijauan dengan jenis pohon yang bisa bernilai ekonomi untuk pakan ternak.

“Kita kepengin punya sentra-sentra pakan ternak, tapi menanamnya di bantaran sungai untuk menahan erosi agar proses sedimentasi di bantaran sungai bisa kita kurangi,” terangnya.

Hewan ternak yang dikembangkan bisa berupa bibit unggul, misalnya Kambing perah,  Kambing Saanen, Etawa, atau Jawa Randu. Sehingga hal ini bisa menjadi sumber penghasilan.

“Sehingga potensi musibah ini bisa menggerakan kita semua menjadi berkah. Semoga ini menjadi titik awal masyarakat bantaran sungai Serayu dari Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas sampai Cilacap menjadi masyarakat sejahtera,” katanya.

Sementara itu Andy F Noya berjanji akan turut mengawal program tersebut, melalui bangunan jejaring CSR untuk pemberdayaan masyarakat, khususnya untuk kegiatan pertanian, peternakan dan konservasi.

“Saya dengar tadi sudah ada ratusan ribu bibit kelor. Kita punya potensi lahan, tinggal perawatan yang baik dan mencari pasar global berbasis e commerce. Saya yakin kelor ini akan diminati pasar karena terbukti ilmiah sangat bermanfaat,” kata Andy.

Imam Prasojo dan Andy Noya akan mencarikan link agar Banjarnegara mendapatkan bantuan alat pengolah pakan ternak sebagai pilot project pembentukan bank pakan.(adz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here