Riwayat Berdirinya “HERMAN THERAPY”

0
106
Ibu Rosmaniar (kanan), warga Cipadu RT 08/05 Kelurahan Pondok Betung, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Sakit Pengapuran dan saraf kejepit yang kemudian sembuh oleh Pengobatan Akupunktur Elektrik. Foto: Iskandar P Hadi

TANGERANG SELATAN, MMCIndonesia.id – Tahun 1990, Herman mendapat tugas sebagai konsultan pada pembangunan Gedung Taspen di daerah Bonggo, sebuah daerah Transmigrasi dan Gedung RRI di Wamena, Irian Jaya.

Waktu bertugas di Irian Jaya tersebut Herman terkena Penyakit Malaria Tropica. Kebetulan saya punya alat elektrik untuk pribadi, trus alat tersebut saya tempelkan pada bagian yang menjadi sumber rasa sakit,  kata Herman kepada MMCIndonesia.id.

“Ini menjadi awal saya menggunakan dan mengembangkan alat tersebut untuk menyembuhkan penyakit, terutama Malaria Tropica pada saat itu,” tambah Herman.

Kemudian Pasukan Brimob yang sedang bertugas di Irian Jaya, ratusan orang terkena Malaria Tropica. Saya terapi dan mereka sembuh.

“Saya perhatikan masyarakat di Irian Jaya. Saya juga tidak menyangka kalau saya bisa menolong dan menyembuhkan orang banyak dari penyakitnya, seperti malaria, asam urat, dan lain-lain,” sambung Herman.

Dari situ saya semangat untuk mengembangkan Pengobatan Akupunktur Elektrik dengan alat yang saya punya. Kemudian tidak hanya penyakit malaria saja, penyakit yang lain juga bisa disembuhkan dengan alat ini.

Lama kelamaan saya tidak bisa menangani sendiri. Dari situ saya mulai melakukan pengkaderan. Jadi saya melatih terapi kepada masyarakat. Saya ajak para TKI, “Ngapain kerja ke luar negeri, ikut saya membantu masyarakat,” kata saya.

Ternyata alat ini sangat bermanfaat buat saya dan juga buat orang banyak. Dari situ saya terpanggil untuk membuka pengobatan dan terapi dengan cara yang saya temukan. Maka Saya membuka ‘Herman Therapi Menyembuhkan Berbagai Macam Penyakit’.

Sejak itu saya melakukan Bakti Sosial ke berbagai wilayah di Irian Jaya, antara lain Wamena, Fak-Fak, Kaimena, terus ke Sorong, bahkan sampai ke Manokwari.

Lalu saya pindah ke Kawasan Timur Indonesia lainnya, seperti Makasar, Manado. Ternyata pengobatan ini banyak menolong orang. Terus berpindah dari satu daerah ke daerah lain, sampai tiba di Bangka Belitung, kampungnya Ahok.

Pangkal Pinang, Pangkalan Balam, sapai kemana-mana. Banjarmasin, Martapura, dan lain-lain, sambungnya.

Selama melayani masyarakat, saya tidak pernah menentukan bayaran ‘wani piro’ namanya Bakti Sosial. Saya selalu tekankan kepada karyawan saya (saya punya beberapa tenaga yang membantu saya), jangan pernah menentukan tariff, tapi kalau dikasih oleh pasien yang merasa puas, berapa pun, terima saja.

“Ini sosial banget, karena dulu saya bekerja di Pramuka. Jadi Jiwa nasionalisme saya dan jiwa sosial saya, tinggi banget,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here