Pernyataan Sikap BP2DIM Terhadap SKB 3 Menteri

0
52
Foto: Iskandar P Hadi

Jakarta, SonaIndonesia.com – Badan Persiapan Pembentukan Daerah Istimewa Minangkabau (BP2DIM) tidak sependapat dengan  Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri, yakni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri.

“Surat Keputusan Bersama 3 Menteri, berdasarkan pengaturan yang kaku dan ketat pada dictum ketiga secara substantif tidak sejalan dengan prinsip dalam Pasal 31 ayat (3) UUD 1945,” antara lain bunyi pernyataan tersebut.

Pernyataan sikap tersebut disampaikan oleh Pengurus BP2DIM yang dibacakan oleh Dr. Eliya, M.Pd., di hadapan sejumlah wartawan di Hotel Balairung, Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat, Kamis (18/2/2021).

Hadir dalam pembacaan pernyataan sikap Dr. H. Moctar Naim, M.Si., Kol. Adrianus Ilra, M.Si.,  Adv., Dr. Taswem Tarib, SH, MH, BcIM., Dr. dr. Manoefris, Sp.j., Dr. Eliya, M.Pd., Dr. Elfira Naim, M.Si., H. Radias Dilan, SH., MH., Prof.Dr. Masri Mansoer, H. Anton Pratama, SE., Prof. Dr. Musril Zahri, H. Ir. Taufik Bey.

  1. Undang-Undang Dasar (UUD 1945) Republik Indonesia Pasal 31 ayat 3: Berdasarkan pengaturan yang kaku dan ketat pada diktum Ketiga dalam Keputusan Bersama Tiga Menteri tersebut secara substantif tidak sejalan dengan prinsip dalam Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 yang mengatur “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang berakhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur oleh undang-undang.”

2. Berdasarkan UUD 1945 pasal 29: Memakai pakaian khusus keagamaan (pakaian                seragam khas muslimah) merupakan bagian dari pelaksanaan ajaran agama                      sebagaimana yang sudah diatur dan  dijamin oleh Pasal 29 UUD 1945. Karenanya              pemerintah harus melindungi hak siswa dalam menjalankan ajaran agamanya melalui        peraturan sekolah yang bijaksana dan moderat, yang menumbuhkan keberagamaan          siswa yang relijius, damai, toleran, serta meningkatkan keimanan, ketakwaan,kepada        Tuhan Yang Maha Esa  dan berakhlak mulia.

3. Berdasarkan Undang-Undang Pendidikan No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan        Nasional. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan                    merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses        pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-            Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan        bahwa setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan          bahwa Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu system pendidikan              nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa          serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan        undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan        bangsa yang merupakan salah satu tujuan Negara Indonesia. Pengaturan yang kaku          dan ketat pada dictum dalam Keputusan Bersama Tiga Menteri tersebut secara                  subtansial tidak sejalan dengan prinsip Undang-Undang Pendidikan Naional No. 20              tahun 2003.

4. merespons diktum Kelima huruf d, dalam Keputusan Bersama Tiga Menteri yang                menyatakan “Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan sanksi kepada            sekolah yang bersangkutan terkait dengan bantuan operasional sekolah dan bantuan          pemerintah lainnya yang bersumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan              sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan”, tidak sejalan dengan                ketentuan dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat (1) dan ayat (2). Ketentuan Pasal 31 UUD            1945, ayat (1) mengatur Setiap warga negara berhak mendapat Pendidikan dan ayat          (2) yang mengatur Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan                  pemerintah wajib membiayainya.

5. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Republik Indonesia              Nomor 45 Tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang          Pendidikan Dasar dan Menengah khususnya bagi siswa muslimah sangat akomodatif          dan konstitusional.

Ketentuan Pasal 1 angka 4 Permendikbud mengatur “Pakaian seragam khas muslimah        adalah pakaian seragam yang dikenakan oleh peserta didik muslimah karena keyakinan      pribadinya sesuai dengan jenis, model, dan warna yang telah ditentukan dalam                  kegiatan proses belajar mengajar untuk semua jenis pakaian seragam sekolah.”                  Karenanya Permendikbud tersebut masih sangat relevan untuk dilaksanakan di sekolah      yang diselenggarakan pemerintah daerah dan dapat mewujudkan tujuan pendidikan            nasional yaitu membentuk insan Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berkarakter          akhlak mulia.

6. Undang-Undang Dasar NKRI tahun 1945 Pasal 18 B ayat 2 berbunyi  Negara mengakui        dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak                  tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat          dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.

Berdasarkan pasal 18 B ayat 2 tersebut dimana Negara mengakui dan menghormati            kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya maka masyarakat            Minangkabau memiliki Hukum Adat yang terkandung dalam Falsafah Adat Masyarakat        Minangkabau yaitu “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah Artinya segala            peraturan bagi orang Minang baik di Ranah maupun di rantau semuanya bersumberkan      kepada Al Qur’an Nur Karim. Falsafah ABS –SBK ini sudah menjadi kearifan Lokal                Budaya Minang jauh sebelum Indonesia ini berdiri. Oleh karena itulah maka muncul            Perda tentang tata cara berpakaian dan bentuk pakaian seragam peserta didik di                sekolah pada pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.  yang sudah diberlakukan          sejak 15 tahun yang lalu, dimana Undang-undang memberikan kewenangan penuh            kepada daerah untuk membuat aturan hukum tentang tata cara berpakaian sesuai              dengan undang-undang no. 32 tahun 2014 tentang Otonomi Daerah.

7. Pertimbangan UU 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan      adalah: Bahwa untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara hukum, negara                      berkewajiban melaksanakan pembangunan hukum nasional yang dilakukan secara              terencana, terpadu, dan berkelanjutan dalam sistem hukum nasional yang menjamin          pelindungan hak dan kewajiban segenap rakyat Indonesia berdasarkan Undang-Undang      Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; pasal 7 UU NO. 12 tahun 2011 tentang        tata cara Pembentukan Peraturan menyatakan bahwa Pembentukan Peraturan                    Perundang-undangan bahwa Aturan yang lebih rendah yang bertentangan dengan              aturan yang lebih tinggi dapat dibatalkan demi hukum oleh karena itu Surat Keptusan 3      Mentri (SKB 3 Mentri) itu dengan sendirinya dapat dibatalkan demi HUKUM.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here