Purwaceng Minuman Khas Dataran Tinggi Dieng

0
56
Saroji menanam tanaman purwaceng hasil penangkaran selama 3 bulan. Purwaceng baru bisa dipanen setelah berusia lebih dari satu tahun. Meningkatnya permintaan akan Purwaceng membuat harga minuman tersebut ikut meroket.(foto/m.anhar)

BANJARNEGARA,MMCIndonesia.id – Selain memiliki panorama yang indah dan memesona, Dataran tinggi Dieng juga menyimpan minuman khas Dieng.

Minuman yang berasal dari rerumputan khas pegunungan Dieng yang diyakini memiliki sederet kehebatan, utamanya untuk meningkatkan keperkasaan pria disamping menghangatkan badan, yakni puwaceng. Saking langkanya tanaman tersebut maka harganyapun semakin meroket, harga purwaceng kering  perkilonya  bahkan  mencapai jutaan.

Mahalnya tumbuhan yang memiliki nama ilmiah (Pimpinella pruatjan Molkenb)  itu, disebabkan karena purwaceng semakin sulit ditemukan habitat aslinya yakni di tempat-tempat tersembunyi di sela bebatuan di lereng-lereng pegunungan. Sedangkan untuk dibudidayakan tidak mudah.

“Budidaya purwaceng harus menggunakan teknik tertentu dan menuntut ketelatenan. di sini (Dieng) sangat sedikit orang  yang mau menggelutinya,” ujar Saroji (60) salah satu pembudidaya sekaligus pedagang purwaceng, Rabu (03/2).

Saroji menceritakan, tanaman purwaceng ditemukan tumbuh di lereng gunung Pangonan Dieng pada ketinggian sekitar 2.500 meter dari permukaan air laut. Beberapa orang yang memiliki naluri bisnis, kemudian mencoba membudidayakannya.

“Awal tahun 2000 pemkab Banjarnegara sempat mengucurkan dana APBD untuk proyek pengembangan purwaceng, namun kelanjutan dari proyek tersebut tidak berlanjut,” lanjut Saroji.

Saroji menambahkan, saat ini pembudidaya purwaceng di Dieng kini tinggal Saroji dan beberapa temannya. Pemilik kios di tempat parkir kendaraan wisata Dieng Kulon itu juga menjual minuman purwaceng dan bubuk purwaceng siap seduh yang diramu dengan kopi dan susu siap seduh. Pesanan purwaceng kering (belum diproses) banyak berdatangan dari berbagai penjuru.

“Harga jual Rp 1 juta per kilo,” katanya. Selain hasil budidaya sendiri, Saroji juga menampung purwaceng dari pembudidaya dan ‘pemburu’ purwaceng di alam bebas.

Tentang cara budidaya purwaceng, menurut Saroji menggunakan bunganya. Bunga yang telah tua dengan ukuran sangat kecil, ditampung di kantong-kantong plastik (polibek) dengan media tenah campur kompos. Setelah mencapai usia 3 bulan, dipindah ke tanah. Purwaceng baru dipanen setelah umur satu tahun sejak tumbuh.(ar13)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here